Gajian Datang, Tagihan Merapat: Survival Guide ala Anak Bulanan

“Selamat Datang di Roller Coaster Keuangan Bulanan!”

Hari ini tanggal merah di kalender: gajian! Dompetmu yang sempat “berpuasa” akhirnya bisa tersenyum lagi. Tapi, eh, kok baru sehari udah ada tagihan yang antre kayak mau beli tiket konser? Tenang, kita semua sama. Di sini, kita bahas gimana caranya nikmati gajian tanpa nangis di tengah bulan. Santai aja, sambil ketawa-ketiwi, ya!


1. “Gajian itu Kayak Gebetan: Datangnya Ditunggu, Perginya Dikejar”

Gajian itu ibarat gebetan impian. Kamu nungguin dia sebulan penuh, pas datang, eh… cuma bisa bertahan 3 hari. “Halo, saya mau bayar listrik, paket data, dan cicilan motor. Oh, sisa berapa? Hmm, cukup buat beli kopi sachet 3 hari.”

Tips:

  • Prioritaskan yang “Nganggur” Dulu: Bayar tagihan wajib (listrik, air, internet) sebelum belanja kebutuhan sekunder seperti skin Mobile Legend atau baju diskon 90% yang sebenarnya nggak perlu. “Tagihan itu kayak mantan, kalau nggak diurus sekarang, nanti makin nagih!”
  • Bikin Daftar “Musuh”: Tulis semua tagihan di notes hp. Kategoriin dari yang paling ganas (utang bank) sampai yang bisa ditunda (langganan Netflix).

2. “Dompet vs Tagihan: Siapa yang Menang?”

Setelah gajian, dompetmu mungkin merasa seperti Superman. Tapi tunggu sampai tagihan datang—langsung jadi sidekick biasa. Biar nggak kalah telak, coba trik ini:

  • Atur Budget ala “50-30-20”:
    • 50% untuk kebutuhan (tagihan, makan, transport).
    • 30% untuk keinginan (nongkrong, beli buku, online shopping).
    • 20% ditabung atau bayar utang. Kalau 20%-nya ilang? Itu tandanya kamu harus belajar “puasa” gaya hidup .

3. “Jebakan Batman: Diskon dan Promo ‘Ayo Borong!'”

Supermarket dan e-commerce itu jago banget bikin kita kepincut. “Diskon 70%? Wah, kalo nggak beli sekarang, rugi 100 tahun!” Tapi, hati-hati: diskon bukan alasan buat beli barang yang nggak dibutuhkan.

Tips Anti-Jebakan:

  • Tahan Napas 10 Detik: Sebelum checkout, tanya diri: “Beneran perlu, atau cuma lagi lapar mata?”
  • Pakai Teknik “Tunda 3 Hari”: Kalau setelah 3 hari masih kepikiran, baru beli. 90% kasus, kamu bakal lupa .

4. “Tanggal Tua? Santai, Kita Bisa Puasa… atau Mie Instan!”

Pas tanggal tua, dompetmu cuma dihuni pahlawan nasional (uang receh). Tapi jangan sedih! Ini saatnya jadi kreatif:

  • Masak ala Chef Receh: Mie instan + telur + sosis = menu bintang 5.
  • Hiburan Gratis: Nonton YouTube, main game offline, atau baca buku yang udah beli tapi belum dibuka. “Hidup itu sederhana: kalau nggak ada duit, ya cari yang gratis!”

5. “Jangan Lupa, Gajian Bulan Depan Pasti Datang Lagi!”

Meski bulan ini mungkin bokek, ingat: hidup itu seperti siklus gajian. Ada kalanya kamu bisa makan steak, ada kalanya harus puasa kopi sachet. Yang penting:

  • Evaluasi: Catat pengeluaran bulan ini. “Kok bisa habis 3 juta cuma buat GoFood?”
  • Sisihin Dana Darurat: 50 ribu per hari bisa jadi penyelamat saat emergency. “Darurat itu bukan cuma saat ban motor bocor, tapi juga saat diskon Shopee 90%!”

Penutup: “Gajian itu Cinta, Tapi Cinta Butuh Perjuangan”

Gajian memang manis di awal, tapi jangan sampai jadi pahit di akhir. Dengan sedikit perencanaan dan humor, kamu bisa nikmati “buah kering” tanpa harus merana. Ingat: “Uang datang dan pergi, tapi pengalaman jadi orang bijak (atau minimal nggak bokek) itu priceless!”

P.S. Kalo masih kehabisan uang, coba deh komentar di bawah. Siapa tau ada yang mau traktir! 😉

#75 UX Dalam Kehidupan Nyata (Part 1)

Pagi ini seperti biasa saya berjalan kaki dari Stasiun Rawa Buntu ke kantor. Yang menarik saya coba melihat konsep trotoar di belahan kota ini. Saya sadar bahwa pejalan kaki adalah kasta paling rendah pengguna jalan di negeri ini. Namun, saya lebih sedih lagi bila pengguna jalan yang tuna netra lebih tidak bisa menikmati trotoar yang nyaman. Entah bagaimana penataan ruang dan wilayah di Indonesia. Apakah jalur khusus tuna netra hanya menjadi syarat saja? Sudah pernah ada tinjauan khusus dengan user real? Bagaimana user experience mereka? Agar project seperti ini benar-benar bermanfaat bagi yang membutuhkannya.

Sebenarnya konsep project management dalam dunia IT sangat bisa digunakan di industri lainnya lho termasuk project infrastructure dalam city planning. Mau pakai design sprint pun cocok. Persoalannya seringkali bukan pada kemampuan, tapi pada kemauan pemangku kepentingan. Kalau saja keberpihakan ada pada masyarakat, maka hal-hal kecil semacam ini harusnya bukan masalah besar untuk diatasi.

Selain problematika desain untuk pejalan kaki, masalah berikutnya adalah empati pengguna jalan lainnya untuk menyadari bahwa mereka memakan hak orang lain dengan cara yang bathil. Mobil parkir di trotoar dan celakanya di jalur tuna netra pula. Semoga postingan ini mampu membangun kesadaran kita bersama bahwa jalan digunakan untuk kepentingan bersama, tidak hanya hak pengguna mobil, dan sepeda motor, namun juga pesepeda dan pejalan kaki.

#74 Tired or Burnout?

Mumpung hari Sabtu sambi nyeruput kopi sore, kita lanjut bahas bedanya tired dan burnout. Dalam sesi pembelajaran tentang menjadi Super Connector dalam Networking ada hal yang menggelitik disampaikan oleh si pemateri yakni batasan comfort, tired dan burnout. Setiap orang memiliki batas untuk ketiganya. Meskipun luasan area masing-masing bidang bisa berbeda pada setiap orang, namun indikator-indikator pancapaian batas-batas ketiganya memiliki kesamaan antara satu individu dengan individu lainnya. Lalu apa yang dimaksud dengan tired dan burnout?

Kalau digambarkan dalam grafik, comfort zone adalah area paling nyaman bagi kita, bisa dikatakan no stress zone, namun juga area yang paling minim growth. Dia menempati area lingkaran paling kecil. Mengelilingi comfort zone dengan area yang lebih luas adalah tire zone. Area ini adalah growth zone. Dimana otot dan otak kita stretching dalam batasan ujung kelelahan kita. Namun, dengan kita berisitirahat yang cukup, berolahraga teratur dan makanan yang bergizi baik itu konsumsi fisik maupun pikiran (lewat bacaan atau proses belajar) maka area ini akan meluas seiring dengan meningkatnya resiliensi kita terhadap stres. Nah, yang menjadi persoalan adalah bila stres ini berkepanjangan tanpa henti atau istirahat. Hal ini yang kemudian akan mendorong kita pada batas area burnout. Beberapa ciri khas dari burnout diantaranya adalah kelelahan fisik yang terus menerus, kehilangan motivasi, meningkatnya rasa cemas, gugup dan mudah tersinggung, penurunan performa kerja, masalah interpersonal bahkan tak jarang berujung pada penyakit fisik serius.

Burnout bukan hal sepele, oleh karena itu perlunya kita belajar untuk mengelola stres dengan baik, makan makanan sehat, rutin berolahraga, tidur yang berkualitas dan cukup, dan mungkin saja sudah waktunya untuk dukungan professional (psikolog, psikiater atau terapis). Yuk kita ukur apakah lelah kita wajar atau sudah mengarah pada burnout.

#73 Ngelu(h)

Sewaktu saya masih kuliah di Kota Surabaya dulu, kalau pusing atau sakit kepala biasanya punya sebutan ‘ngelu’ atau lebih pas dipasangkan seperti ‘ngelu ndasku’ dan ini sering kali pusingnya karena tugas yang gak beres-beres. Lalu kenapa saya kasih judul ‘ngelu(h)’ karena pusing ini ujungnya nanti akan muncul keluhan-keluhan sana sini.

Kenapa saya angkat? Berawal dari obrolan ringan sesi curcol kawan dengan situasi dunia kerja saat ini yang banyak layoff dimana-mana dan posisi lowongan kerja (hashtag#loker) di LinkedIn bisa sampai lebih dari 100 applicant untuk satu jabatan (bahkan di level senior/manajemen lho) muncullah keluhan-keluhan baik dengan posisi dia saat ini, kesejahteraan dan lainnya. Dia juga sudah mempertimbangkan untuk mulai apply ke beberapa posisi di perusahaan kompetitor yang pasar kerjanya pun sudah mulai jenuh. Dia akan bersaing dengan anak-anak muda yang lebih gesit dan cekatan serta mudah belajar hal baru.

Saya memberi beberapa masukan terkait hal tersebut diantaranya ada beberapa point yang dia perlu ingat dan lakukan:

1. Jaga etos kerja dan kinerja pekerjaan dengan baik. Kalau bisa jauh di atas rata-rata. Etos kerja yang baik selain menghasilkan impresi yang bagus juga menunjukkan kualitas diri kita pribadi.

2. Salah satu tolok ukur orang melihat kinerja kita baik atau tidak adalah bagaimana posisi kita dengan pekerjaan. Kalau kita yang masih sibuk cari kerja sana sini berarti kinerja kita belum muncul ke permukaan. Boleh jadi karena masih biasa-biasa saja atau memang belum terekspos ke luar. Namun, bila pekerjaan yang mencari kita bisa jadi eksposur kita sudah lebih baik atau memang networking kita cukup luas dan orang/perusahaan lain tahu kinerja kita dengan baik.

3. Attitude before aptitude. Pengalaman saya interview dan hiring puluhan orang seringkali adab dan akhlak itu mengalahkan kemampuan teknis jauh. Kemampuan teknis itu bisa dibentuk seiring dengan kemauan belajar yang kuat dan akhlak yang baik.

4. Mengeluh itu menghabiskan energi. Don’t like it? Why bother continuing it? Sama seperti kita punya barang yang rusak. Either you fix it or buy something new. Mengeluh sesuatu yang rusak tidak akan menyelesaikan masalah.

Jangan lupa, kalau memang itu rejeki kita tidak akan kemana. Dan kalau memang itu belum rejeki kita, mau kita kejar sampai ke ujung dunia juga tidak akan kita dapatkan. Nah, daripada makin ngelu karena ngeluh, lebih baik fokus memperbaiki kualitas diri, teknis dan non-teknis serta memperkuat jejaring pertemanan. Dan yang paling utama adalah doa dan ikhtiar yang kuat. Semangat berjuang untuk kawan-kawan yang memilih tidak berpangku tangan, menahan lisan dari mengeluh dan semoga kalian mendapatkan yang terbaik.

#72 Re(dis)cover Yourself

Dalam proses pencarian jati diri, konsep “recover” dan “rediscover” memiliki peran yang saling melengkapi. “Recover” merujuk pada pemulihan aspek-aspek diri yang mungkin telah hilang atau terabaikan akibat berbagai pengalaman hidup. Misalnya, seseorang mungkin perlu memulihkan rasa percaya diri atau nilai-nilai yang pernah dimiliki tetapi hilang karena tekanan atau trauma. Proses ini penting karena membantu individu untuk kembali ke keadaan awal yang lebih sehat dan stabil, memungkinkan mereka untuk melanjutkan perjalanan pencarian jati diri dengan fondasi yang kuat.

Di sisi lain, “rediscover” melibatkan penemuan kembali aspek-aspek diri yang mungkin sudah ada tetapi tidak disadari atau dihargai sepenuhnya. Ini bisa termasuk bakat, minat, atau tujuan hidup yang mungkin terlupakan seiring berjalannya waktu. Proses rediscovery ini sering kali memberikan momen pencerahan, di mana individu menyadari potensi dan kekuatan yang mereka miliki. Dengan menemukan kembali hal-hal ini, seseorang dapat memperkaya pemahaman mereka tentang diri sendiri dan memperkuat identitas mereka.

Kedua proses ini saling berkaitan dan sering kali berjalan bersamaan dalam perjalanan pencarian jati diri. Dengan memulihkan dan menemukan kembali aspek-aspek penting dari diri, seseorang dapat mencapai pemahaman yang lebih dalam tentang siapa mereka sebenarnya dan apa yang mereka inginkan dalam hidup. Kombinasi dari recover dan rediscover memungkinkan individu untuk tidak hanya kembali ke keadaan awal yang lebih baik tetapi juga melangkah maju dengan pengetahuan dan pemahaman baru tentang diri mereka. Ini adalah perjalanan yang dinamis dan berkelanjutan, di mana setiap langkah membawa individu lebih dekat ke pemahaman jati diri yang utuh dan autentik.

Perjalanan proses inilah yang membentuk diri saya sekarang. Pernah mencoba ini itu dan tentunya pernah berkali-kali jatuh dalam kesalahan. Proses recover kita dari kesalahan dan trauma masa lalu membuat kita belajar dan memperbaiki diri yang ujungnya kita rediscover diri kita yang baru. Be kind to yourself and move on. Amal itu dilihat akhirnya, kawan. Terus berbuat baik dan mendatangkan manfaat bagi sesama.

#71 Semua Akan (Pakai) AI Pada Waktunya

Demokratisasi teknologi akan terjadi baik enterprise suka atau tidak suka. Yang tadinya hanya eksklusif punya satu principal akan kalah dengan yang berkolaborasi dengan terbuka mendefinisikan standard. Sudah terlalu banyak cerita sejak tahun 1970-an bahkan jauh sebelum itu yang akhirnya gagal merengkuh pasar karena merasa eksklusif. Pun hal ini berlaku juga pada teknologi Machine Learning dan Artificial Intelligence.

Beberapa tahun belakangan Generative AI menjadi hype karena menawarkan kemudahan dan kenyamanan layaknya berinteraksi dengan asisten untuk menghasilkan keluaran baik tulisan, suara bahkan gambar. Dan semakin ke depan era Generative AI bahkan sudah mampu menghasilkan karya baik visual maupun audio yang meski belum sebaik karya manusia biasa, namun sudah semakin sulit membedakannya. Bukan mustahil beberapa tahun ke depan kita akan menjumpai AI generated movies, documentaries dan lainnya.

Demokratisasi teknologi inilah yang menjadikan semakin lama teknologi akan menjadi barang komoditas. Sehingga semakin lama harganya akan semakin murah. Sebagaimana sejarah teknologi-teknologi sebelum AI. Seperti komputer, storage dan lain sebagainya. Di awal kemunculannya fitur terbatas dan harganya mahal. Dengan semakin banyak yang terjun di pengembangan teknologi tersebut maka teknologinya menjadi barang komoditas yang bisa diakses dengan mudah dan murah. Tentunya ini ke depan akan ada banyak konsekuensi logis pada penyalahgunaannya. Sudah bermunculan deep fake pornografi [1], hanya bermodal foto sang korban. Muncul pula deep fake untuk kampanye presiden [2]. Kemudahan ini perlu diregulasi dengan pagar AI Ethics. Senada dengan pengembangan teknologi Cloning yang memungkinkan terbukanya manusia bermain-main sebagai ‘tuhan’, maka guard rails AI Ethics ini yang akan membantu melakukan filter apa saja yang dapat dan etis dilakukan oleh teknologi. Di LinkedIn Learning ada beberapa materi yang dapat dipelajari bersama seperti [3] dan [4].

Banyak aspek dan sektor pekerjaan yang akan terpengaruh oleh disrupsi teknologi AI ini, di satu sisi akan memudahkan, di sisi lain lapangan pekerjaan yang repetitif dan labor intensive akan pelan-pelan digantikan dengan otomasi yang dikendalikan oleh AI. Manusia perlu meningkatkan kapasitas dan kapabilitas diri agar dapat keep up dengan teknologi dan memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Semoga bermanfaat.

Referensi:
[1] https://lnkd.in/gvaiviVG
[2] https://lnkd.in/gp6TCTXA
[3] https://lnkd.in/gKqNkpTV
[4] https://lnkd.in/gbyQfvVA

#70 On Taking Notes, Digitally

Ikatlah ilmu dengan tulisan. Demikian nasehat yang selalu terngiang dalam pikiran saya. Baik bentuknya hardcopy maupun softcopy (baca: format digital). Hal inilah yang saya rasakan dan lakukan agar apa-apa yang didapatkan dari ilmu dan terlintas dalam pikiran dapat diarsipkan dengan baik untuk dibaca kembali. Kebiasan menulis dan mencatat ini jadi krusial bahkan ketika kita sedang berusaha keras memecahkan masalah. Kalau hanya dibiarkan dalam pikiran seringkali malah tambah ruwet, bukan makin jernih berpikirnya. Dengan menuliskannya maka kita punya waktu untuk menelaah kembali apa yang menjadi beban pikiran kita sehingga bisa mengurai kekusutan tersebut dengan baik.

Dari offline notes seperti Notepad, Wordpad, Notepad++, & hashtag#uhuk VIm sampai di era cloud notes seperti Evernote, Microsoft One Note sampai terakhir menggunakan Apple Notes (simple) & Notion (advanced) pernah saya coba. Dua tools yang terakhir saya aktif pakai adalah Apple Notes dan Notion. Apple Notes karena perangkat mobilitas saya belakangan memang di ekosistem tersebut sedangkan Notion kaya akan templates, baik yang free maupun yang berbayar. Tulisan ini pun di-draft-kan di atas KRL menggunakan Notion. Hampir semua tulisan saya baik di blog atau social media lainnya sering saya draft dulu di media tulisan ini. Bahkan catatan meeting, agile planning dan kanban board juga ada di Notion. Kelebihan lainnya yang saya juga rasakan adalah kolaborasi antar penulis di media ini. Meski yang free terbatas hanya pada fitur-fitur tertentu tetap saja saya sangat terbantu dengan kemampuan ini. Ada tools satu lagi yang membantu saya untuk mengurai isi pikiran, MindNode. Next time kita bahas mindmapping menggunakan MindNode atau XMind, insya Allah.

Meski menuangkan tulisan dalam bentuk digital memang nyaman karena portabilitas, namun sependek pengalaman saya belum ada yang bisa mengalahkan the-good-old-fashioned pen & paper. Kalau kalian pakai tools apa? Share di kolom komentar.

#69 Learn to Rest, Not to Quit

Lelah itu wajar kok. Saya jadi ingat postingan seseorang di LinkedIn. When you get tired, learn to rest not to quit. Sebuah mantra yang sangat ampuh bagi saya. Seringkali lelah itu datang bertubi-tubi. Both physically and mentally. Terkadang datang dalam waktu yang tak terduga, menguras tenaga dan pikiran. Kadang dalam bentuk kecil-kecil namun makin lama makin terasa menguras energi. Ibarat Sony Walkman (aduh, jadi ketahuan usia) dulu ada tombol Pause. Kadang kita harus pause sejenak, mengistirahatkan tubuh dan pikiran untuk kembali beraktivitas dengan energi yang sudah di-recharge. Siap untuk tantangan berikutnya.

Kenapa jangan berhenti? Karena berhenti itu artinya kita menyerah. Kecuali berhenti dari bermaksiat atau mengerjakan hal-hal yang tidak bermanfaat ya kawan. Sedangkan, teladan kita, baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyerah berdakwah dan berhenti beraktivitas yang mendatangkan manfaat. Pun demikian pula sewajarnya bagi kita untuk terus melakukan kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat bagi kita, keluarga dan sesama.

Pernah dalam satu kesempatan, Ustadz Syafiq Riza Basalamah hafidzahullah menerangkan kalau kita semua hidup di dunia itu akan lelah. Yang berbuat baik akan lelah dan yang berbuat maksiat sesungguhnya mereka juga lelah. Tinggal memilih kita mau lelah yang mana. Fokus sama hal-hal yang bermanfaat membuat kita lebih sustainable di atas kebaikan daripada menyibukkan diri dengan keluhan. Lelah? Istirahatlah baik badan maupun pikiran. Nah, mau tahu bedanya tired dan burnout? Next kita bahas ya. Insya Allah.

Happy Monday, Everyone! Remember, when you get tired, learn to rest not to quit.

#68 Konsumsi Bacaan (Buku)

Dalam satu sesi diskusi online dibuatlah jajak pendapat untuk mengetahui seberapa banyak peserta diskusi mengkonsumsi buku setiap bulannya. Ada yang menjawab kurang dari 1 buku, ada yang menjawab sekitar 1 buku dan ada pula yang menjawab lebih dari 1 buku per bulan. Saya pribadi konsumsi antara 1-3 buku sebulan tergantung materi dan tebal bukunya. Namun, pernah juga saya menghabiskan 1 buku bisa 3-4 bulan seperti Musashi karya Eiji Yoshikawa atau A Song of Ice and Fire karya George R.R. Martin. Contoh yang dihabiskan kurang lebih sebulan seperti Shogun karya James Clavell. Ada juga yang hampir setahun seperti The Lord of The Rings Saga karya J.R.R Tolkien. Selain dari buku-buku fiksi kelas berat (baca: tebal) di atas, beberapa buku yang saya habiskan hanya 1-2 pekan saja seperti, Fiqih ASN dan Karyawan buah karya Ustadz Ammi Nur Baits, Atomic Habits karya James Clear, Remote karya Jason Fried atau Hit Refresh-nya Satya Nadella.

Bagi saya pribadi buku sudah menjadi teman commuting sehari-hari. Entah dalam bentuk kertas, ebook maupun audiobook (ini yang paling jarang, hanya beberapa judul buku saja yang saya betah mendengarkannya karena lebih enak dibaca sendiri daripada dibacakan). Selain memang saya punya waktu yang cukup banyak di perjalanan commuting saya, juga karena kalau tidak membaca sepertinya ada yang kurang.

Selain buku, saya kadang juga suka membaca beberapa jurnal ilmiah. Khusus yang satu ini karena kebutuhan weekend project saya, seperti saat sedang eksperimen bersama istri untuk membuat ecofriendly skin and body care, meracik jamu dan lainnya. Saya perlu landasan ilmiah untuk meracik formula yang pas dan bermanfaat. Dari sini saya memperkaya wawasan dan seringkali malah mendapati harus membongkar pandangan lama saya.

Untuk jenis ebook paling banyak saya taruh di perangkat mobile saya seperti smartphone via Google Play Book atau di Amazon Kindle. Perangkat favorit saya masih Amazon Kindle. Belum ketemu perangkat baca buku elektronik yang lebih nyaman dan paling ekonomis selain Amazon Kindle. Selain buku dengan berbagai bentuk, genre dan medianya. Saya juga suka baca beberapa majalah. Khusus ini kita bahas lain waktu. Bagaimana konsumsi buku bacaan kalian? Spill di kolom komentar ya.

#67 Aktivitas Saya Selama Commuting dengan KRL

Seringkali ketika saya ditanya di kantor oleh beberapa kawan saya tinggal dimana, pertanyaan selanjutnya adalah ke kantor naik apa. Ketika mereka tahu saya naik KRL ke kantor, pertanyaan berikutnya adalah berapa lama saya menghabiskan waktu di perjalanan. Ini adalah tiga pertanyaan mendasar yang sering ditanyakan kepada saya. Kebetulan kantor saya ada di area Serpong, Tangerang Selatan dan saya tinggal di daerah Bojonggede, Bogor. AKAP (Antar Kota, Antar Propinsi) literally. Untuk commuting dari rumah ke kantor menggunakan KRL saya menghabiskan waktu sekitar 2-2,5 jam di perjalanan. Bukan waktu yang singkat tentunya. Sehingga untuk pergi dan pulang menghabiskan waktu total kurang kebih 4-5 jam dengan 2 kali transit, yakni di Stasiun Manggarai dan Stasiun Tanah Abang.

Waktu yang cukup panjang ini kadang ditanyakan oleh kawan-kawan kenapa tidak memilih moda transportasi kendaraan pribadi seperti mobil atau sepeda motor. Ada beberapa alasan yang mendasari pilihan saya menggunakan transportasi menggunakan KRL:

1. Lebih murah dalam jangka panjang. Ini pastinya debatable yang kawan-kawan. Tapi saya bisa saving buat kebutuhan di masa mendatang hanya dari ongkos perjalanan.
2. Mobilitas bila harus wara-wiri lebih enak. Karena akses ke area kota lebih mudah. Tinggal turun di stasiun terdekat lalu lanjut Bus Transjakarta atau naik ojek online. Kalau naik kendaraan pribadi jadi PR apalagi kalau di jam-jam rawan macet. Waktu jadi tidak bisa diprediksi dengan baik.
3. Commuting time jadi Me Time. Berhubung untuk mendapatkan waktu ‘sendiri’ itu sangat susah, maka ketika commuting inilah saya bisa ‘recharge’ energi saya. Bahkan ketika pulang dan sampai di rumah saya masih punya energi yang cukup buat diskusi dengan istri. Bayangkan bisa saya menggunakan kendaraan pribadi yang menguras konsentrasi karena harus fokus ke jalan.
4. Saya bisa menuntaskan buku, tontonan, podcast, kajian bahkan learning course di perjalanan. Ini adalah salah satu nikmat lainnya. Betapa banyak buku yang saya habiskan di perjalanan yang saya tidak mungkin bisa selesaikan di rumah apalagi di kantor. Dan ini yang tidak mungkin juga saya dapatkan ketika saya harus konsentrasi menyetir kendaraan.

Itu adalah 4 alasan mendasar yang sampai sekarang saya belum mendapatkan penggantinya bila harus memilih selain moda transportasi umum KRL. Beberapa kali bahkan saya ikut online meeting di perjalanan. Apalagi bila start pagi atau after office hours. Satu hal lagi yang saya rasakan menjadi nilai tambah menggunakan KRL adalah saya punya ruang waktu yang cukup untuk menulis. Banyak tulisan-tulisan saya yang saya selesaikan ketika commuting ke kantor atau pulang dari kantor.